Kamis, 19 Maret 2015

Untuk sahabatku

dalam dermaga rindu
aku menantimu
di penjamuan setiap malam
membingkai dalam keindahan

sahabat ku
Tiada air mata yang kuseka
Dalam menoreh kata
Sebagai pengantar tidurmu
menjemput mimpi-mimpi indah mu

Sahabat ku
dalam luka ku ada senyummu
dalam gundahku engkau air mata
yang berpendar
seindah bianglala
seharum mawar
sehangat mentar

Dia Selalu Juara

TENTUNYA aku tidak berbeda dengan ibu-ibu yang lain di seluruh dunia ini, menginginkan yang terbaik bagi anakku. Terutama Aji, adalah satu-satunya anakku. Tentu aku tidak salah pula jika aku mendorongnya,dan memberikanya semangat. Kurasa, karena perhatiankulah yang menyebabkan dia selalu berhasil menjadi juara kelas di setiap tahun. Dia memperoleh piagam penghargaan untuk renang, melukis dan prakarya. Dari greja ia telah tiga kali memenangkan lomba pencarian ayat-ayat pilihan.    Dan dadaku serasa mengenmbang setiap kudengar suaranya di sebut pertama kali di setiapa macam perlombaan
Besok malam Aji akan Maju ke babak final, memperebutkan piala gubernur untuk lomba nyanyi. Tidak ada yang aku cemaskan. Selama tiga tahun menjadi anggota paduan suara gereja dan sering di minta untuk menyanyi solo, bagi Aji perlombaan ini bukanlah sesuatu yang menggetarkan hatinya

Aku menengok jam dinding. hampir jam tujuh. Sejak sore tadi, Mas Has melihat latihan Aji yang terakhir . Tanpa tergesa-gesa aku menyiapkan makan malam . Seluruh hati dan pikiranku terpusat pada dua orang lelaki  yang sangat aku cintai dan kubanggakan. Aku tersenyum ketika deru sepeda motor memasuki halaman.

Mas Has, dengan langkah yang agak timpang, akibat kecelakaan tahun lalu, melangkah memasuki rumah dengan wajah cerah. Aji berjalan di belakangnya. Aji merupakan potret Mas Has ketika Aku mengenalnya pertama kali. Sering aku panggil  Hastomo muda. Dan Mas Has sendiri, dalam usia mendekati empat puluh tahun, tampak sedemikian tampan berwibawa. Seandainya kakinya tidak cacat …. tapi cintaku takkan berkurang karenanya.

Selama makan, keduanya terus bicara. Mas Has periang dan peramah, sedang Aji selalu menemukan bahan untuk di ceritakan. Yang dapat dilakukan hanyalah menjad i pendengar yang baik.
Sesudah menyendok nasinya yang terakhir, Aji mengelus lehernya dengan kemesraan yang berlebiahan. Katanya sambil tertawa,  ”Seandainya aku tadi nyayi sekali lagi, pasti urat leherku ini akan putus ”
“Kau mendapat saingan-saingan kuat rupanya?” sahut Mas Has
“Ya. Setidak-tidaknya dari  Wayan dan Kerel.” Aku meliahat sudut keraguan di sudut bibirnya. Tapi ia cepat menyambung, “Tetapi aku tidak khawatir, aku pasti bisa mengalahkan mereka. Hanya kata pak Benny berkata….agak aneh.”
“Apa katanya?” selaku penuh perhatian. Pak Benny adalah guru musik di sekola Aji .
“Katanya, seandainya aku kalah, itu baik untukku karean aku kan mendapat pelajaran yang berharga dari kesalahan itu. Tahukah Papa maksud Pak Benny itu?”
Mas Has meletaka garpunya, lalu mengelap bibirnya. Ia belum menjawab, Aji sudah bicara lagi. “Pelajaran berharga! Huh! Aku tidak perlu kalah untuk memperoleh pelajaran yang berharga. Aku harus menang. Adakah yang lebih baik dari itu?”
“Dan pasti kau menang Aji, ” Kataku penuh kasih
ia terus tersnyum, lalu berdiri. Seperti biasa, ia segera masuk kekamar bekajarnya. Sebelum meninggalakan kamar makan. Aji menepuk bahuku sambil berkata, “Tenang sajalah, Ma. Aku pasti menang.”
Tidak berapa kemudian, aku dan Mas Has dudu k di ruang tengah. Hatiku masih kesal oleh kata-kata guru musik itu. Kalimat yang sungguh tak bijaksana, apa lagi di ucapkan sehari sebelum pertandingan yang menentukan itu dimula. Bagai mana mungkin seorang guru menginginkan anak didiknya kalah?  Bukankah kemenangan dan keberhasilan Aji juga akan mengangkat nama guru dan sekolahnya? Kupaparkan kegemasanku tanpa tersisa.
“Ada benarnya juga dia,” jawab Mas Has tenang. Jawaban itu sungguh diluar dugaanku. Aku menoleh ke arah kamar Aji yang masih tertutup. Mas Has juga tidak terlalu keras berbicara.
“Maksud Mas Has?” aku bertanya menahan perasaan marah.
“Selama ini Aji hanya mengenal menang, lulus dan berhasil. sedankan dalam hiddup ini ada juga kegagalan dan kekecewaan. Dia blum mengenalnya . Tetapi dia perlu mengenal peristiwa itu .”
“Mas maksudkan,  di malam menjelang pertandingan yang menentukan ini,” Kataku dengan suara gemetar . ” Baik juga kalau dia kalah?”
“Aku hanaya ingin agar Aji tahu bahwa kalah pun merupakan suatu berkat.”
“Untung ia telah masuk kekamarnya,” kataku dengan napas memburu.  Aku yakin semangat Aji cukup tinggi untuk mengalahkan lawan-lawannya. Dan sekarang Mas Has ingin menurunkanya.”
“Bukan begitu maksudku. Semangat yang tinggi itu bagus. Tetapi jangan di campuri congkak. Kukira keberhasilan yang terus-menerus pada pertandingan- pertandingan yang ringan itu menjadikanya takabur.”
“Jadi, Mas Has ingin agar kali ini dia kalah dan mendapat suatu pelajaran?’
“Murti!”
“Ya, Mas Has ingin agar dia kalah . Mas Has ingin supaya ia mengalami pengalaman-pengalaman pahit seperti Mas Has alami?” kataku meluncur penuh penuh kemarahan.”Mas Has ingin supaya anak yang berumur lima belas itu mempunyai pengalaman selengkap ayahnya. Dan bahkan menjadi pincang pun merupakan suatu berkat!”
“Murti!” seru Mas Has deakan terkejut dan marah. Akut tepana. Aku telah mengungkit cacat kakinya.suatu kekecewaan yang terpendam selama setahun, kini muncul di luar sadarku. Aku lari masuk kekamar dan mengunci kamar. Bantal dan guling kini menerima sasaran luapan perasaanku. Menyesal, Marah, kecewa, bercampur aduk.
Hari telah lewat malam, dan Mas Has tidak mengetuk pintu.Dari jendela aku melihat langkah kakinya yang sedikit pincang. Rupanya ia tak dapat tidur, dan berjalan-jalan di halaman belakang. Aku ingin sekali membuaka pintu dan menyusulnya. Tapi kutahan kuat-kuat . Akhirnya aku tertidur karen kelelahan.
Ketika aku bangun, hari sudah tinggi. Di meja makan kudapati secarik kertas kecil dari Aji.”Sampai ketemu di Aula, Ma.Siang ini kau tidak pulang.”
Tidak ada pesan dari Mas Has. Pasti dia marah dan tersinggung. Kembali teringat olehku, betapa Mas Has mensyukuri cacat kakinya itu sebagai suatu kemurahan dari Tuhan karena orang-orang mengiranya telah tewas.
Siang hari, datang seorang pesuruh dari kantor. Ada rapat mendadak yang menyebabkan Mas Has tidak dapat pulang. Dia akan menemui ku di Aula sekolah Aji. Aku tak dapat berbuat apa-apa, kecuali pergi seorang diri dengan kecewa.
Ketika aku masuk, separuh aula sudah terisi tamu. Ku letakkan tas dan kipasku pada kursi di sisiku, untuk Mas Has nanti. Mataku menoleh kepintu kiri yang berhubungan aula dengan gedung sekolah. Aku meilhat Aji. Diapun melihatku, serta segera berlari mendekatiku .
“Ma. anak yang berbaju batik itulah yang bernama Kerel. Suaranya bagus Sekali, Ma. Mungkin ia menjadi saingan terberatku malam ini.”
“Omong kosong. Kau lebih hebat. Kau pasti menang,” Sahutku cepat-cepat. Dan ketika kata-kata yang sudah  sering kuucapkan itu mendengung kembali ketelingaku, aku sadar, betapa kosongnya kata-kata itu. Untuk pertama kali aku sadar bahwa aku tidak pernah memberikannya sesuatu kecuali menuntut dan mendesaknya. Kini punggung Aji telah semakin jauh.
“Aji!” seruku. Beberapa tamu menoleh.” Kemarilah sebentar!”
“Ya!” Kata Aji ragu.

“Kau melihat mengapa Papamu begitu gembira semalam?” kataku sambil tersenyum. “Ia sangat mencintaimu. Dan baginya, kau kalah atu menang bukan soal.”
“Pak Benny benar,” kataku lagi. ” Kalah bukan suatu hal yang menakutkan.”
“Mama tidak kecewa seandainya aku kalah?” Pertanayaan ku membauat aku tersudut .
“Bagaimana dengan kau sendiri?”
“Aku hanya menyenangkan hati mirna.”
Oh Tuhan. Pekikku dalam hati. Apa yang sudah aku lakukan selama ini terhadap anak kuyang paling aku cintai?
“Kalah atau menang, Aji yang kucinta,” sahu8tku kemudian dengan penuh haru.
“Sungguh?”
“Sungguh.”
Mas Has mengisi kursi kosong disisiku setelah lampu pada. Di panggung, kuliahat Aji duduk diantara teman-temannya. Wajahnya sedemikian cerah dan matanya bersianar bening. Aku melirik Mas Has, dan Aku sudah menemukan cara  untuk minta maaf  kepadanay

Dikutip dari Korrie Layun Rampan, Apresiasi Cerita Pendek 1: Cerpenis Wanita, Ende: Nusa Indah, 1991, hlm. 115-118

Aku yang Merana

hujan rintik-rintik menyepuh dalam kesunyianku.kupandang sudut-sudut kamarku.dan dinding kamarku.aku terbayang betapa indah rasanya. dan kjadian yang tak akan pernah aku lupakan dalam hidupku.
baru pertamakali aku melihat wanita secantik dirinya.seyumnya,da tatapan yang akan membuat sapa saja tersihir oleh pesonanya.entah perasaan kagum atau bagai mana saya tak tahu.
hemm.. bayangan itu terus menari-nari dalam anganku.dan masih ku ingat harum parfum yang engkau pakai.aku hanya tersenyum-senyum seorang diri.da beraandai-andai bila bersamamu.. 

**) Tulisan ini aku buat waktu masih duduk di bangku sma awal

surat cintaku untu yang mencintaiku

Untuk :
Seseorang yang mencintaiku

Assalamualaikum...

Segala puji bagi Allah yang maha tinggi, dan yang membolakbalikan hati. Wahai orang yang mencintaiku, teteriring salam semoga kebahagiaan tercurah padamu, seblm dan sesudahnya saya minta maaf, bila saya lancang menulis secarik kertas ini untukmu...

Tiada sesembahan yang memiliki hak disembah dan di persekutukannya, demikian pula cinta ku dan hatiku hanya milik Allah semata

saya hanya insan lemah , dan tiada kesempurnaan dalam diriku, engkau mungkin tahu,

Maafkan aku...
krana aku terlalu berani menulis surat ini untukmu, entah mengapa saya terdorong menulis surat ini untuk mu, ada sesuatu yang mengganjal dihatiku, lain dari yang lain, entahlah aku juga tak tahu... cinta ataukah hanya kagum padamu?


perasaan ini sudah lama ku pendam, tapi aku tak berani mengungkapkan padamu,  dan aku takut menjadi fitnah diantara kita,

aku tak ingin jawaban dari mu,ini hanya  sekedar perasaan ku pada mu, maafkan aku , mungkin aku tak pantas aku ucapkan padamu,

demikan yang dapat saya sampekan pada mu, jika sikap saya salah terhadapmu saya mohon maaf yang sebesar-besarnya padamu

Assalamualaikum....

selamat datang

Puji syukur kehadirat Allah ta'ala atas nikmat dan karunianya pada kita semua, sehinga kita dapat merasakan semua nikmat yang Allah berikan pada kita, yang terutama adalah nikmat sehat.

Alhamdulillah dengan izin Allah saya dapat membuat blog ini, yang merupakan catatan unek-unek saya yang saya tuangkan dalam media onlen ini,