TENTUNYA
aku tidak berbeda dengan ibu-ibu yang lain di seluruh dunia ini,
menginginkan yang terbaik bagi anakku. Terutama Aji, adalah satu-satunya
anakku. Tentu aku tidak salah pula jika aku mendorongnya,dan
memberikanya semangat. Kurasa, karena perhatiankulah yang menyebabkan
dia selalu berhasil menjadi juara kelas di setiap tahun. Dia memperoleh
piagam penghargaan untuk renang, melukis dan prakarya. Dari greja ia
telah tiga kali memenangkan lomba pencarian ayat-ayat pilihan. Dan
dadaku serasa mengenmbang setiap kudengar suaranya di sebut pertama kali
di setiapa macam perlombaan
Besok
malam Aji akan Maju ke babak final, memperebutkan piala gubernur untuk
lomba nyanyi. Tidak ada yang aku cemaskan. Selama tiga tahun menjadi
anggota paduan suara gereja dan sering di minta untuk menyanyi solo,
bagi Aji perlombaan ini bukanlah sesuatu yang menggetarkan hatinya
Aku
menengok jam dinding. hampir jam tujuh. Sejak sore tadi, Mas Has
melihat latihan Aji yang terakhir . Tanpa tergesa-gesa aku menyiapkan
makan malam . Seluruh hati dan pikiranku terpusat pada dua orang lelaki
yang sangat aku cintai dan kubanggakan. Aku tersenyum ketika deru
sepeda motor memasuki halaman.
Mas
Has, dengan langkah yang agak timpang, akibat kecelakaan tahun lalu,
melangkah memasuki rumah dengan wajah cerah. Aji berjalan di
belakangnya. Aji merupakan potret Mas Has ketika Aku mengenalnya pertama
kali. Sering aku panggil Hastomo muda. Dan Mas Has sendiri, dalam usia
mendekati empat puluh tahun, tampak sedemikian tampan berwibawa.
Seandainya kakinya tidak cacat …. tapi cintaku takkan berkurang
karenanya.
Selama
makan, keduanya terus bicara. Mas Has periang dan peramah, sedang Aji
selalu menemukan bahan untuk di ceritakan. Yang dapat dilakukan hanyalah
menjad i pendengar yang baik.
Sesudah
menyendok nasinya yang terakhir, Aji mengelus lehernya dengan kemesraan
yang berlebiahan. Katanya sambil tertawa, ”Seandainya aku tadi nyayi
sekali lagi, pasti urat leherku ini akan putus ”
“Kau mendapat saingan-saingan kuat rupanya?” sahut Mas Has
“Ya.
Setidak-tidaknya dari Wayan dan Kerel.” Aku meliahat sudut keraguan di
sudut bibirnya. Tapi ia cepat menyambung, “Tetapi aku tidak khawatir,
aku pasti bisa mengalahkan mereka. Hanya kata pak Benny berkata….agak
aneh.”
“Apa katanya?” selaku penuh perhatian. Pak Benny adalah guru musik di sekola Aji .
“Katanya,
seandainya aku kalah, itu baik untukku karean aku kan mendapat
pelajaran yang berharga dari kesalahan itu. Tahukah Papa maksud Pak
Benny itu?”
Mas Has meletaka
garpunya, lalu mengelap bibirnya. Ia belum menjawab, Aji sudah bicara
lagi. “Pelajaran berharga! Huh! Aku tidak perlu kalah untuk memperoleh
pelajaran yang berharga. Aku harus menang. Adakah yang lebih baik dari
itu?”
“Dan pasti kau menang Aji, ” Kataku penuh kasih
ia
terus tersnyum, lalu berdiri. Seperti biasa, ia segera masuk kekamar
bekajarnya. Sebelum meninggalakan kamar makan. Aji menepuk bahuku sambil
berkata, “Tenang sajalah, Ma. Aku pasti menang.”
Tidak
berapa kemudian, aku dan Mas Has dudu k di ruang tengah. Hatiku masih
kesal oleh kata-kata guru musik itu. Kalimat yang sungguh tak bijaksana,
apa lagi di ucapkan sehari sebelum pertandingan yang menentukan itu
dimula. Bagai mana mungkin seorang guru menginginkan anak didiknya
kalah? Bukankah kemenangan dan keberhasilan Aji juga akan mengangkat
nama guru dan sekolahnya? Kupaparkan kegemasanku tanpa tersisa.
“Ada
benarnya juga dia,” jawab Mas Has tenang. Jawaban itu sungguh diluar
dugaanku. Aku menoleh ke arah kamar Aji yang masih tertutup. Mas Has
juga tidak terlalu keras berbicara.
“Maksud Mas Has?” aku bertanya menahan perasaan marah.
“Selama
ini Aji hanya mengenal menang, lulus dan berhasil. sedankan dalam
hiddup ini ada juga kegagalan dan kekecewaan. Dia blum mengenalnya .
Tetapi dia perlu mengenal peristiwa itu .”
“Mas
maksudkan, di malam menjelang pertandingan yang menentukan ini,”
Kataku dengan suara gemetar . ” Baik juga kalau dia kalah?”
“Aku hanaya ingin agar Aji tahu bahwa kalah pun merupakan suatu berkat.”
“Untung
ia telah masuk kekamarnya,” kataku dengan napas memburu. Aku yakin
semangat Aji cukup tinggi untuk mengalahkan lawan-lawannya. Dan sekarang
Mas Has ingin menurunkanya.”
“Bukan
begitu maksudku. Semangat yang tinggi itu bagus. Tetapi jangan di
campuri congkak. Kukira keberhasilan yang terus-menerus pada
pertandingan- pertandingan yang ringan itu menjadikanya takabur.”
“Jadi, Mas Has ingin agar kali ini dia kalah dan mendapat suatu pelajaran?’
“Murti!”
“Ya,
Mas Has ingin agar dia kalah . Mas Has ingin supaya ia mengalami
pengalaman-pengalaman pahit seperti Mas Has alami?” kataku meluncur
penuh penuh kemarahan.”Mas Has ingin supaya anak yang berumur lima belas
itu mempunyai pengalaman selengkap ayahnya. Dan bahkan menjadi pincang
pun merupakan suatu berkat!”
“Murti!”
seru Mas Has deakan terkejut dan marah. Akut tepana. Aku telah
mengungkit cacat kakinya.suatu kekecewaan yang terpendam selama setahun,
kini muncul di luar sadarku. Aku lari masuk kekamar dan mengunci kamar.
Bantal dan guling kini menerima sasaran luapan perasaanku. Menyesal,
Marah, kecewa, bercampur aduk.
Hari
telah lewat malam, dan Mas Has tidak mengetuk pintu.Dari jendela aku
melihat langkah kakinya yang sedikit pincang. Rupanya ia tak dapat
tidur, dan berjalan-jalan di halaman belakang. Aku ingin sekali membuaka
pintu dan menyusulnya. Tapi kutahan kuat-kuat . Akhirnya aku tertidur
karen kelelahan.
Ketika aku
bangun, hari sudah tinggi. Di meja makan kudapati secarik kertas kecil
dari Aji.”Sampai ketemu di Aula, Ma.Siang ini kau tidak pulang.”
Tidak
ada pesan dari Mas Has. Pasti dia marah dan tersinggung. Kembali
teringat olehku, betapa Mas Has mensyukuri cacat kakinya itu sebagai
suatu kemurahan dari Tuhan karena orang-orang mengiranya telah tewas.
Siang
hari, datang seorang pesuruh dari kantor. Ada rapat mendadak yang
menyebabkan Mas Has tidak dapat pulang. Dia akan menemui ku di Aula
sekolah Aji. Aku tak dapat berbuat apa-apa, kecuali pergi seorang diri
dengan kecewa.
Ketika aku
masuk, separuh aula sudah terisi tamu. Ku letakkan tas dan kipasku pada
kursi di sisiku, untuk Mas Has nanti. Mataku menoleh kepintu kiri yang
berhubungan aula dengan gedung sekolah. Aku meilhat Aji. Diapun
melihatku, serta segera berlari mendekatiku .
“Ma.
anak yang berbaju batik itulah yang bernama Kerel. Suaranya bagus
Sekali, Ma. Mungkin ia menjadi saingan terberatku malam ini.”
“Omong
kosong. Kau lebih hebat. Kau pasti menang,” Sahutku cepat-cepat. Dan
ketika kata-kata yang sudah sering kuucapkan itu mendengung kembali
ketelingaku, aku sadar, betapa kosongnya kata-kata itu. Untuk pertama
kali aku sadar bahwa aku tidak pernah memberikannya sesuatu kecuali
menuntut dan mendesaknya. Kini punggung Aji telah semakin jauh.
“Aji!” seruku. Beberapa tamu menoleh.” Kemarilah sebentar!”
“Ya!” Kata Aji ragu.
“Kau
melihat mengapa Papamu begitu gembira semalam?” kataku sambil
tersenyum. “Ia sangat mencintaimu. Dan baginya, kau kalah atu menang
bukan soal.”
“Pak Benny benar,” kataku lagi. ” Kalah bukan suatu hal yang menakutkan.”
“Mama tidak kecewa seandainya aku kalah?” Pertanayaan ku membauat aku tersudut .
“Bagaimana dengan kau sendiri?”
“Aku hanya menyenangkan hati mirna.”
Oh Tuhan. Pekikku dalam hati. Apa yang sudah aku lakukan selama ini terhadap anak kuyang paling aku cintai?
“Kalah atau menang, Aji yang kucinta,” sahu8tku kemudian dengan penuh haru.
“Sungguh?”
“Sungguh.”
Mas
Has mengisi kursi kosong disisiku setelah lampu pada. Di panggung,
kuliahat Aji duduk diantara teman-temannya. Wajahnya sedemikian cerah
dan matanya bersianar bening. Aku melirik Mas Has, dan Aku sudah
menemukan cara untuk minta maaf kepadanay
Dikutip dari Korrie Layun Rampan, Apresiasi Cerita Pendek 1: Cerpenis Wanita, Ende: Nusa Indah, 1991, hlm. 115-118